Stockholm,
3 Oktober 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum
wr wbr.
MELIHAT DIBALIK AL-AHZAB 33:28-34,
AL-MAIDAH 5:6 DAN HUD 11:72-73 DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
SEDIKIT MENGGALI AL-AHZAB 33:28-34, AL-MAIDAH 5:6 DAN HUD 11:72-73
DIHUBUNGKAN DENGAN MAKSUM DAN AHLUL BAIT.
Untuk tahap awal melalui tulisan singkat ini Ahmad Sudirman sedikit akan
berusaha menggali untuk melihat ada apa dibalik rahasia yang terkandung dalam
Quran surat Al Ahzab dari ayat 28 sampai ayat 34 dan kandungan surat Al-Maidah
ayat 6 serta butiran surat Hud ayat 72 sampai ayat 73 kalau dihubungkan dengan
maksum dan ahlul bait.
Diawali dengan dimajukan beberapa pertanyaan diantaranya apakah ayat 33
dalam surat Al Ahzab itu adalah dasar kekuatan nash maksumnya ahlul bait?
Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan ahlul bait yang tertuang dalam ayat 33
surat Al Ahzab itu? Apakah ahlul bait yang tertuang dalam ayat 33 surat Al Ahzab
itu sama denga ahlul bait yang tertuang
dalam ayat 73 surat Hud? Apakah ahlul bait yang tertuang dalam ayat 73 surat
Hud dan ayat 33 surat Al Ahzab itu berhubungan dengan jalur pernikahan ataukah
hanya berhubungan dengan jalur nasab? Apakah istri-istri Rasulullah saw itu
termasuk ahlul bait atau tidak menurut surat Al Ahzab dari ayat 28 sampai 34?
Nah untuk mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas,
maka disini Ahmad Sudirman dengan memohon pertolongan dan petunjuk Allah SWT
mencoba untuk sedikit menggali apa yang tertuang dalam kandungan Al-Ahzab 33:
28-34, Al-Maidah 5: 6 dan Hud 11: 72-73.
Sekarang kita bersama-sama membuka tabir ayat 33 surat Al-Ahzab yang
menyangkut masalah at-that-hir yang merujuk kepada “wa yuthoh-hirokum tath-hiron” (dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.). Kemudian kita perhatikan dan teliti dalam kalimat
“…in-nama yuridullohu li-yudzhiba ankumur-rijsa ahlul bait wa yuthoh-hirokum
tath-hiron” (…sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari
kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.) (QS Al Ahzab, 33:
33), maka akan ditemukan kata yuridu yang berarti “bermaksud” atau
“berkehendak” atau “berkeinginan” dan kata yudzhiba yang diawali dengan
huruf Lam yang berarti “untuk” “supaya”. Jadi kalau memperhatikan dan mendalami
kalimat “…in-nama yuridullohu li-yudzhiba
ankumur-rijsa ahlul bait”, maka ditemukan bahwa Allah SWT bermaksud atau
berkehendak atau berkeinginan untuk menghilangkan dosa ahlul bait.
Nah, disini kita bisa mengambil garis lurus pengertian bahwa Allah SWT
berkehendak atau berkeinginan atau bermaksud untuk menghilangkan dosa ahlul
bait. Jadi ahlul bait masih akan dibersihkan dari dosa, bukan telah
dibersihkan dari dosa. Karena itu ahlul bait tidak digolongkan kepada golongan
orang maksum atau yang bersih dari dosa.
Dan keadaan atau situasi yang menyangkut ahlul bait ini bisa
dibandingkan dengan situasi atau keadaan orang yang beriman yang mengambil
wudu, seperti yang tertuang dalam ayat 6 surat Al-Maidah “walakin yuridu
li-yuthohhiro-kum…” (tetapi Dia berkehendak untuk membersihkan
kamu) (QS Al-Maidah, 5: 6).
Nah,
kata yuridu mengawali kata li-yuthohhiro-kum. Artinya Allah SWT bermaksud atau berkehendak atau
berkeinginan untuk membersihkan kamu.
Jadi,
orang yang beriman yang mengambil wudu untuk melakukan sholat situasi atau
keadaannya adalah sama dengan situasi atau keadaan ahlul bait, yaitu mereka
adalah tidak dimasukkan kedalam golongan maksum. Atau dengan kata lain keadaan
atau situasi mereka bukan telah bersih dari dosa, melainkan masih dalam keadaan
dimana Allah SWT bermaksud atau berkehendak atau berkeinginan untuk
membersihkan mereka dari dosa.
Karena
itu tidak masuk akal atau tidak logis kalau ada orang yang menganggap bahwa
keadaan atau situasi orang yang beriman yang mengambil wudu dan ahlul bait
berdasarkan ayat 33 surat Al-Ahzab dan ayat 6 surat Al-Maidah adalah
orang-orang yang maksum atau orang-orang yang bersih dari dosa.
Yang
masuk akal dan logis adalah kalau ahlul bait adalah orang-orang maksum, maka Allah
SWT akan berfirman “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa kamu
ahlul bait dan telah membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”. Tetapi,
kenyataannya yang tertuang dalam ayat 33 surat Al-Ahzab tidak demikian
bunyinya, melainkan berbunyi ”..sesungguhnya Allah bermaksud untuk
menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab, 33: 33). Sama juga yang tertuang dalam ayat 6 surat Al-Maidah
bagi orang beriman yang berwudu “...tetapi Dia berkehendak untuk membersihkan
kamu“ (QS Al-Maidah, 5: 6).
Jadi
kemaksuman dari ahlul bait adalah tidak masuk akal dan tidak logis kalau
dihubungkan dan diacukan kepada dasar nash QS Al Ahzab, 33: 33.
Selanjutnya,
kita akan berusaha untuk menggali siapa yang dimaksud dengan ahlul bait kalau
kita mengacu kepada nash Al-Ahzab 33: 28-34 dan Hud 11: 72-73. Apakah yang
dimaksud dengan ahlul bait itu didasarkan kepada jalur pertalian kekeluargaan
yang memiliki ikatan nasab ataukah didasarkan
kepada tali ikatan kekeluargaan yang didasarkan oleh pernikahan?
Kalau
kita menggali apa yang tertuang dalam surat Al-Ahzab dari ayat 28 sampai ayat
34:
“Hai Nabi,
katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini
kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah
dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.“ (QS Al Ahzab, 33: 28).
“Dan jika
kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan)
di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat
baik diantaramu pahala yang besar.“ (QS Al Ahzab, 33: 29).
“Hai
isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji
yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali
lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS Al Ahzab, 33: 30).
“Dan
barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada
Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscata Kami memberikan
kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.“(QS
Al Ahzab, 33: 31).
”Hai
isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu
bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, (QS
Al Ahzab, 33: 32).
”dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah
zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud untuk
menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS Al Ahzab, 33: 33).
“Dan
ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah
nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.“ (QS Al
Ahzab, 33: 34).
Dari
ayat 28 sampai ayat 34 surat Al-Ahzab diatas menggambarkan secara terang dan
gamblang bahwa yang menjadi penekanan utama dalam ayat-ayat tersebut diatas
adalah masalah pengajaran, perintah dan larangan kepada istri-istri Rasulullah saw.
Nah,
ayat 33 diatas adalah ayat yang tidak berdiri sendiri dan terpisah, melainkan
salah satu rangkaian ayat yang berisikan pelajaran, perintah dan larangan
kepada istri-istri Rasulullah saw.
Jadi, ayat 33 yang berbunyi “... Sesungguhnya Allah bermaksud untuk menghilangkan dosa dari kamu, ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” adalah bukan satu ayat yang terpisah dari pada rangkaian ayat 28 sampai ayat 34. Tetapi merupakan bagian dari ayat-ayat tersebut. Dimana ayat 33 tersebut adalah merupakan puncak daripada tujuan yang ingin dilimpahkan dan dikaruniakan oleh Allah kepada istri-istri Rasulullah saw melalui pelajaran, perintah dan peringatan.
Karena
itu berdasarkan nash ayat 28 sampai 34 surat Al-Ahzab diatas kita sudah bisa
menarik garis lurus bahwa yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat 33 surat
Al-Ahzab itu adalah istri-istri Rasulullah saw yang tali ikatan kekeluargaannya
melalui pernikahan.
Dimana
kesimpulan ini ditunjang oleh nash ayat 72 dan ayat 73 surat Hud
”Isterinya
berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku
adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua
pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” (QS Hud
11: 72)
”Para malaikat itu berkata: ”Apakah
kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan
keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait Sesungguhnya Allah
Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS Hud 11: 73)
Berdasarkan ayat 72 dan 73 surat
Hud diatas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ahlul bait adalah istri Nabi
Ibrahim as.
Jadi, dengan dua dasar nash QS Al Ahzab, 33: 28-34 dan QS Hud 11:
72-73 menggambarkan bahwa ahlul bait itu anggota keluarga yang diikat oleh tali
pernikahan.
Karena itu kalau ditafsirkan ahlul bait hanya Rasulullah saw,
Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hassan bin Ali bin abi Thalib dan Husein
bin Ali bin abi Thalib, maka tidak masuk akal dan tidak logis kalau diacukan
kepada dasar nash QS Al Ahzab, 33: 28-34 dan QS Hud 11: 72-73. Dan tidak masuk
akal dan tidak logis juga kalau Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali bin abi
Thalib dan Husein bin Ali bin abi Thalib diperintahkan untuk tetap berada
didalam rumah dan dilarang berhias apabila mereka keluar rumah seperti yang
tertuang dalam nas ayat 33 surat Al-Ahzab tersebut.
Terakhir, inilah sedikit galian
kita bersama tentang kandungan Al-Quran surat Al Ahzab dari ayat 28 sampai ayat
34 dan kandungan surat Al-Maidah ayat 6 serta butiran surat Hud ayat 72 sampai
ayat 73 yang ada hubungan dan kaitannya dengan sifat maksum dan ahlul bait.
Bagi yang ada minat untuk
menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya
sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang
telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah
silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon
pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad
Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------