Stockholm,
6 Oktober 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum
wr wbr.
MENGGALI ALI IMRAN 3:61 UNTUK MELIHAT
APAKAH RASULULLAH SAW DENGAN ALI BIN
ABI THALIB SEJIWA.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
BENARKAN ANFUSANA DALAM ALI IMRAN 3:61 DIARTIKAN RASULULLAH SAW DENGAN
ALI BIN ABI THALIB SEJIWA?
Setelah kita dalam tulisan sebelum ini membahas Al-Ahzab 33:28-34,
Al-Maidah 5:6, Hud 11:72-73 dan hadits Al-Kisa dan menemukan fakta, bukti hukum
dan nash bahwa Ali bin Abi Thalib, Fatimah Zahrah, Hasan bin Ali bin Abi Thalib
dan Husen bin Ali bin Abi Thalib adalah sama seperti istri-istri Rasulullah saw
sebagaimana yang tertuang dalam ayat 28 sampai 32 surat Al-Ahzab yaitu golongan
ahlul bait yang tidak maksum, maka untuk tulisan kali ini kita secara
bersama-sama akan menggali ayat 61 surat Ali Imran tentang hal yang menyangkut
anfusana atau diri kami yang dihubungkan antara Rasulullah saw dan Ali bin Abi
Thalib.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kata anfusana yang tertuang dalam
ayat 61 surat Ali Imran itu diartikan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib
sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah saw sendiri?
Nah, kita secara bersama-sama untuk menggali apakah memang benar istilah
yang dikenakan pada anfusana atau diri kami diartikan Rasulullah saw dengan Ali
bin Abi Thalib sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah
saw sendiri?
Anfusana
(diri kami) yang merujuk pada ayat 61 surat Ali Imran:
”Siapa
yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu),
maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan
anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan
diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta
supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS Ali Imran,
3:61)
Nah,
pengertian anfusana atau diri kami yang dimaksud dalam ayat 61 surat Ali Imran
adalah Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib yang memiliki kesamaan sikap,
tindakan dan keyakinan dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran.
Dimana Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib menyatukan sikap dan tindakan yang
sama dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran. Jadi pengertian
diri kami adalah bukan diartikan dengan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi
Thalib sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah saw
sendiri dalam hal bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran.
Selanjutnya
anfusana atau diri kami yang diartikan dengan memiliki kesamaan sikap, tindakan
dan keyakinan adalah tertuang juga dalam ayat 130 surat Al-An’am walaupun
diartikan dengan adanya kesamaan dalam bersaksi akan kesalahan masing-masing:
”Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang
kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu
ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari
ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami
sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi
atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Qs Al-An'am, 6:130)
Nah, pengertian anfusana atau diri kami dalam ayat 130 surat Al-An’am
itu menunjukkan adanya kesamaan dalam bersaksi akan kesalahan masing-masing
akibat tertipu kehidupan dunia. Dimana kesaksian diri kami sendiri itu antara
manusia dengan jin, antara jin dengan jin dan antara manusia dengan manusia.
Jadi dengan adanya berbagi sosok tubuh mahluk berbeda itu tidak mungkin mereka
dikatakan sebagai satu diri atau sejiwa atau sebagian jiwa dari yang lainnya.
Juga anfusana atau diri kami ini juga yang diartikan dengan kesamaan
sikap, tindakan bermubahalah atau kesamaan dalam bersaksi akan kesalahan
masing-masing, juga ditemukan dalam ayat
23 surat Al-A’raf yang diartikan dengan kesamaan perbuatan menganiaya diri
sendiri dengan mengikuti bujukan syaitan dalam surga:
Keduanya berkata: "Ya Tuhan
kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk
orang-orang yang merugi. (Qs Al-A'raf, 7:23)
Nah, do’a Nabi Adam dan Siti Hawa yang dinyatakan dalam ucapan anfusana
atau diri kami dalam ayat 23 surat Al-A’raf tersebut menunjukkan adanya
kesamaan perbuatan atau tindakan dari Nabi Adam dan Siti Hawa yang melanggar
larangan Allah SWT dengan mengikuti bujukan syaitan.
Jadi, dengan menggali anfusana atau diri kami yang tertuang dalam ayat
61 surat Ali Imran, ayat 130 surat Al-An’am dan ayat 23 surat Al-A’raf
menunjukkan bahwa anfusana atau diri kami adalah tidak menunjukkan kepada
pengertian sejiwa atau sebagian jiwa dari yang lainnya, melainkan menggambarkan
adanya kesamaan sikap, tindakan, perbuatan dan kesaksian.
Karena itu kalau kata anfusana atau diri kami dalam ayat 61 surat Ali
Imran diartikan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib sejiwa atau Ali bin
Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah saw sendiri adalah tidak benar dan
tidak sesuai dengan kandungan ayat 61 surat Ali Imran yang menyangkut hal
bermubahalah. Justru yang benar dan sesuai
dengan kontek dari isi dan maksud ayat
61 surat Ali Imran mengenai anfusana atau diri kami tentang bermubahalah adalah
Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib yang memiliki kesamaan sikap, tindakan
dan keyakinan dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran. Dimana
Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib menyatukan sikap dan tindakan yang sama
dalam bermubahalah dengan pihak delegasi Nasrani Najran.
Nah sekarang, kesimpulan yang
dapat diambil dari penjelasan diatas adalah kata anfusana atau diri kami dalam
ayat 61 surat Ali Imran adalah bukan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib
sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah saw sendiri
dalam bermubahalah, melainkan Rasulullah saw dengan Ali bin Abi Thalib memiliki
kesamaan sikap, tindakan dan keyakinan dalam bermubahalah dengan pihak delegasi
Nasrani Najran.
Terakhir, semoga dengan
penjelasan ini, kita semua diluruskan kembali oleh Allah SWT dari sikap,
tindakan, pemikiran dan pemahaman yang salah dalam mengartikan anfusana atau
diri kami yang tertuang dalam firman Allah SWT ayat 61 surat Ali Iram tersebut.
Pengertian anfusana atau diri kami dengan mengartikan Rasulullah saw dengan Ali
bin Abi Thalib sejiwa atau Ali bin Abi Thalib adalah sebagian diri Rasulullah
saw sendiri dalam bermubahalah adalah pengertian yang menyimpang dan keliru
sama sekali.
Bagi yang ada minat untuk
menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya
sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya
yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang
Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon
pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad
Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------