Stockholm, 17 Februari 2007
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
KARENA HIDUNG SIRA SUDAH MEMBELOK KEARAH PASAL 18B AYAT (1)
UUD 1945 MAKA SIRA SULIT UNTUK KEMBALI KE JALUR REFERENDUM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
SIRA YANG DIWAKILI OLEH TAUFIQ AL MUBARAK MENGGAMBARKAN ORANG YANG MEMILIKI NAFSU BESAR TETAPI TENAGA KEROPOS.
"Ahmad Sudirman, makin bodoh saja. Jangan2 ini bukan Ahmad Sudirman yang saya baca tulisannya beberapa tahun lalu sebelum dibius oleh kepentingan elite. Ahmad Sudirman skr keliatan makin bodoh dan analisanya di samping tumpul juga keliatan bego" (Taufik Al Mubarak, taufik_pidie@yahoo.com , [202.152.170.254] , Sat, 17 Feb 2007 13:07:58 -0000).
Nah, ketika
Ahmad Sudirman menyatakan bahwa "saudara Irwandi
Yusuf plus saudara Muhammad Nazar telah secara sadar dan secara politik
menyatakan taat dan setia pada Presiden RI, pancasila, UUD 1945, garuda
pancasila dan bendera merah putih. Sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro,
Teungku Malik Mahmud dan Teungku Zaini Abdullah belum pernah tercacat secara
politik jatuh kelembah ketaatan dan kesetiaan pada Presiden RI, pancasila, UUD
1945, garuda pancasila dan bendera merah putih", ternyata chief editor of
SIRA Taufik Al Mubarak langsung saja memberikan komentar: "Jangan2
ini bukan Ahmad Sudirman yang saya baca tulisannya beberapa tahun lalu sebelum
dibius oleh kepentingan elite".
Juga
ketika Ahmad Sudirman menyatakan bahwa "pihak PM Teungku Malik Mahmud menghadiri acara
peusijuek Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar adalah bukan berarti penyokongan
politik dari pihak GAM kepada pihak "Gubernur
Acheh" Irwandi Yusuf", ternyata Taufik Al Mubarak tidak kepalang tanggung
menyatakan: "Ahmad
Sudirman, makin bodoh saja".
Begitu
juga ketika Ahmad Sudirman menuliskan
bahwa "acara
peusijuek Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar adalah bukan acara politik yang bisa
dianggap sebagai bentuk sokongan Pimpinan Tertinggi GAM Teungku Hasan Muhammad
di Tiro kepada pihak "Gubernur Acheh"
Irwandi Yusuf", ternyata Taufik tanpa berpikir
secara matang langsung saja menuliskan:
"Ahmad Sudirman skr keliatan makin bodoh dan analisanya di
samping tumpul juga keliatan bego".
Nah
sekarang, kalau diambil poin-poin dari apa yang dijelaskan diatas, maka kita
akan menemukan bahwa menurut chief editor of SIRA
Taufik Al Mubarak kalau ada orang yang menuliskan bahwa Irwandi Yusuf dan
Muhammad Nazar menyatakan diri taat dan setia kepada Susilo Bambang Yudhoyono,
pancasila, UUD 1945, garuda pancasila dan bendera merah putih, maka orang
tersebut dikatakan sebagai orang yang pintar, dan analisanya tajam juga
kelihatan cermat.
Begitu juga
menurut SIRA yang diwakili oleh Taufik Al Mubarak
bahwa acara peusijuek Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar adalah merupakan
acara politik yang bisa dianggap sebagai bentuk sokongan Pimpinan Tertinggi GAM
Teungku Hasan Muhammad di Tiro kepada pihak
"Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf"
Kalau
ada orang yang mengatakan bahwa "acara peusijuek Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar adalah bukan acara
politik yang bisa dianggap sebagai bentuk sokongan Pimpinan Tertinggi GAM
Teungku Hasan Muhammad di Tiro kepada pihak
"Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf",
maka orang tersebut menurut Taufik Al
Mubarak orang SIRA ini adalah orang yang "keliatan makin bodoh dan
analisanya di samping tumpul juga keliatan bego"
Jadi
sekarang makin kelihatan dengan jelas bahwa SIRA yang diwakili oleh chief
editor of SIRA Taufik Al Mubarak telah mengarah kepada pion-pion Jakarta dengan
merk atau label otonomi gaya Pasal 18B ayat (1) UUD 1945, bukan lagi mengarah
pada apa yang telah disepakati dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005.
Kebodohan
dan kedunguan orang SIRA satu ini adalah disebabkan karena Muhammad Nazar cs
dan SIRA-nya yang hidung mereka dari sejak awal telah diikatkan pada draft RUU
PA model SIRA-nya yang mengekor pada otonomi gaya Pasal 18B ayat (1) UUD 1945.
Terakhir, Ahmad Sudirman yang menulis dan memberikan pandangan detik sekarang ini adalah Ahmad Sudirman yang telah memberikan pandangan dan analisa sembilan tahun yang lalu. Tidak ada perubahan dalam sikap, pandangan dan analisa tentang Acheh dihubungkan dengan pertumbuhan dan perkembangan RI dikaitkan dengan Negeri Acheh.
Dan tentu saja orang-orang SIRA ini harus banyak belajar tentang sejarah Acheh dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan serta jatuh bangunnya negara unitaris RI, agar supaya hidung mereka tidak ditarik kearah jurang otonomi model RI-Jawa-Yogya alias unitaris RI alias NKRI oleh mbah Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi yang ada minat untuk
menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya
sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya
yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang
Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya
kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon
petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad
Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------