Stockholm,
7 Maret 2007
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum
wr wbr.
AL WAAQI'AH, 56:79 DIKAITKAN DENGAN SAIDINA ALI
BIN ABI THALIB RA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
SEDIKIT
MENGUPAS TENTANG AL WAAQI'AH, 56:79 DIKAITKAN DENGAN SAIDINA ALI BIN ABI THALIB
RA
"
"Innahu laquranun karim" (Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan
yang sangat mulia) (QS Al Waaqi'ah, 56: 77) "fii kitabim maknun"
(pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh)) (QS Al Waaqi'ah, 56: 78)
"la yamassuhu illa almuthahharun" (tidak menyentuhnya kecuali
orang-orang yang disucikan) (QS Al Waaqi'ah, 56: 79)"
"Dipintu
gerbang ilmu tertulis dengan jelas: "Dilarang masuk orang-orang yang tidak
beriman" (QS.56:79) Yang benar hadist itu berbunyi: "Aku adalah
gudang ilmu dan 'Ali pintu gerbangnya. Barangsiapa hendak mencari ilmu,
masuklah melalui pintunya" " (Muhammad al qubra,
acheh_karbala@yahoo.no , 7 Mar 2007 07:04:18 -0000)
"Pastikan pendapat manusia
subjective, dimana tergantung kemampuan manusia itu dalam mengaplikasikan daya
nalarnya. Daya nalar manusia tentu berbeda antara satu samalainnya kecuali
kalau seluruh manusia sepakat mengembalikan persoalan yang dihadapinya kepada
Allah. Ketika itulah kesimpulan yang diambil manusia itu menjadi
objective. Dengan kata lain saya hendak
mengatakan bahwa pikiran manusia yang berilmu dan benar- benar berimanlah yang
objective. Dipintu gerbang ilmu tertulis dengan jelas:"Dilarang masuk orang-orang
yang tidak beriman" (QS.56:79) " (Ali Al Asytar,
alasytar_acheh@yahoo.com , Wednesday, March 7, 2007 4:45:12 AM)
"…jika alasan jawaban itu
objective karena ustaz orang berilmu dan betul-betul beriman, maka bagaimana
mengetahui bahwa ustaz berilmu dan betul-betul beriman. jika jawabannya dengan
proses nalar, maka artinya bukan objektive tetapi subjective." ( idris
andian, saidput@yahoo.com ,Tue, 06 Mar 2007 20:27:01 PST)
Setelah membaca tanggapan saudara Saifuddin
Dhuhri atas tulisan Teungku Husaini Daud atau Teungku Ali Al Asytar atau Teungku Muhammad al Qubra yang
menyangkut tentang QS Al Waaqi'ah, 56: 79 yang
diturunkan di Mekkah dikaitkan dengan "Aku adalah gudang ilmu dan
'Ali pintu gerbangnya. Barangsiapa hendak mencari ilmu, masuklah melalui
pintunya", (dimana yang waktu di Mekkah
Saidina Ali bin Abi Thalib masih sebagai seorang pemuda belasan tahun), ada beberapa hal yang ingin Ahmad Sudirman sampaikan
disini, terutama yang menyangkut QS Al Waaqi'ah, 56: 79.
Kalau diteliti dan didalami ayat
yang tertuang dalam QS Al Waaqi'ah, 56: 79 dikaitkan dengan ayat 77 dan 78
surat yang sama, maka akan ditemukan untaian kata-kata " "Innahu
laquranun karim" (Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat
mulia) (QS Al Waaqi'ah, 56: 77) "fii kitabim maknun" (pada kitab yang
terpelihara (Lauhul Mahfuzh)) (QS Al Waaqi'ah, 56: 78) "la yamassuhu illa
almuthahharun" (tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan) (QS
Al Waaqi'ah, 56: 79)"
Nah sekarang yang dimaksud dengan ayat 79 "la yamassuhu illa almuthahharun" (tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan) adalah bukan diarahkan kepada pengertian yang disampaikan oleh Teungku Husaini Daud yaitu : "Dilarang masuk orang-orang yang tidak beriman" yang dikaitkan dengan "Aku adalah gudang ilmu dan 'Ali pintu gerbangnya. Barangsiapa hendak mencari ilmu, masuklah melalui pintunya". Mengapa?
Karena pertama, Saidini Ali bin Abi Thalib ra adalah tidak
dimaksudkan dengan "almuthahharun" (orang-orang yang disucikan) dalam QS Al Waaqi'ah, 56: 79 yang diturunkan di Mekkah. Saidini
Ali bin Abi Thalib ra ketika QS Al Waaqi'ah, 56: 79
diturunkan usianya masih belasan tahun di Mekkah. Saidina Ali bin Abi Thalib ra
baru menikah dengan Fatimah Az-Zahra ra di Madinah pada bulan Rajab setelah
perang Badar pada usia sekitar 22 tahun. Perang Badar terjadi pada bulan
Ramadhan tahun 2 Hijrah.
Kedua, kalau ingin menggali ilmu pengetahuan tentang Islam tidak harus melalui Saidini Ali bin Abi Thalib ra yang dianggap oleh sebagian orang sebagai gerbang ilmu, kemudian dikaitkan dengan anggapan untuk menggali Al Qur’an dan memahami-nya harus melalui ayatullah-ayatullah.
Selanjutnya, menyinggung masalah daya nalar atau daya berpikir atau daya pandangan yang merupakan bentuk subjektivitas manusia. Dan apa yang dipandangkan atau dipikirkan atau dinalarkannya itu adalah objetivitas manusia.
Nah, menurut Teungku Husaini Daud kalau daya nalar atau daya pikir atau daya pandang diacukan pada Allah SWT, maka apa yang dinalarkan atau dipandangkan atau dipikirkan itu adalah menjadi objektiv atau dengan kata lain orang yang benar-benar beriman yang objektive, artinya hanya mengacukan pada apa yang diperintahkan dan ditetapkan oleh Allah SWT.
Misalnya, daging babi itu haram. Titik. Haramnya daging bagi adalah keputusan dan ketetapan Allah SWT. Tidak ada tawar-menawar lagi atau tidak diperkenankan untuk didiskusikan lagi. Jadi disini tidak diperkenankan menampilkan subjektivitas masing-masing.
Persoalannya sekarang yang masih dipertanyakan adalah apakah untuk menjadi orang yang benar-benar beriman harus melalui satu-satunya pintu masuk yaitu pintu masuk melalui Saidina Ali bin Abi Thalib yang menjadi pintu gerbang ilmu pengetahuan menurut hadits yang dikutip oleh Teungku Husaini Daud diatas ?
Nah tentu saja jawabannya adalah bermacam-macam tergantung
pada umat Islam ketika memahami dan mengerti Al Quran yang tidak menggantungkan
dirinya kepada taklid buta. Buktinya saja dalam memahami QS Al Waaqi'ah, 56: 79 diatas adalah sudah berbeda-beda.
Dan terakhir Ahmad Sudirman
berpikir dengan mengacukan pada apa yang telah diturunkan Allah SWT dalam Al
Quran bahwa untuk menjadi orang-orang yang benar-benar beriman tidak melalui
gerbang pintu Saidini Ali bin Abi Thalib ra dan para ayatullah melainkan
melalui apa yang telah dicontohkan dan ditunjukkan oleh Rasulullah saw.
Bagi
yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk
membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah
Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya
kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon
petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad
Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------
Received:
from [222.124.192.169] by web34103.mail.mud.yahoo.com via HTTP; Tue, 06 Mar
2007 20:27:01 PST
From: idris andian saidput@yahoo.com
Datesadress: IACSF@yahoogroups.com
Subject: [IACSF] Apakah jawaban ustaz itu objective?
Terima kasih
sekali atas uraian dan jawaban ustaz Ali Al Asytar.
Bapak Ustaz
menjelaskan subjective adalah: proses penalaran manusia terhadap sesuatu karena
manusia berbeda-beda maka penalaran itu berbeda-beda. Objective adalah pikiran
manusia yang berilmu dan benar-benar beriman.
pemahaman dari
tulisan ustaz:
proses pemahaman
manusia itu disebut dengan pengunaan akal. tanpa akal tidak akan ada proses
penalaran. karena seluruh manusia benalar, maka seluruh manusia secara
outomatis subjective.
namun jika hanya
orang yang berilmu dan yang betul-betul beriman dianggap objective, maka
seharusnya tidak ada perbedaan pendapat antara orang berilmu dan betul-betul beriman,
karena perbedaan itu sendiri subjective.
kenapa orang
berilmu dan beriman berbeda menjadi syi'ah, sunni, zaidy, salafy, As'ary,
Maturidy dan lain-lain, bukankah perbedaan mereka menunjukan subjectivitas
mereka itu sendiri.
kalau anda
maksud objective itu adalah perbedaan, maka artinya objective itu sendiri
subjective.
apakah
jawaban anda ustaz tadi itu objective? bila ya, kenapa? bukankah ustaz dalam
menjawab pertanyaan itu mempergunakan daya nalar, dan jawaban ustaz itu berbeda
dengan saya artinya ada perbedaan yang seharusnya dikatakan jawaban itu
sucjectivitas ustaz.
jika alasan
jawaban itu objective karena ustaz orang berilmu dan betul-betul beriman, maka
bagaimana mengetahui bahwa ustaz berilmu dan betul-betul beriman. jika
jawabannya dengan proses nalar, maka artinya bukan objektive tetapi subjective.
mohon
penjelasan lanjut, sekali lagi saya tidak bermaksud untuk 'teukaboe dan
teumeureuka' namun saya merasa tertarik berdiskusi dengan ustaz yang dalam
pandangan saya ustaz adalah orang yang tersubjectivekan dengan paham
Syi'ah.
atas jawaban dan
keluasan ustaz dalam berdiskusi ini saya hantarkan terima kasih.
wassalam
Saifuddin
Dhuhri
----------