Stavanger, 31
Desember 2007
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
ACHÈH SEBAGAI
SEBUAH BANGSA DAN ACHÈH SEBAGAI NASIONALISMENYA!
Omar Puteh
Stavanger - NORWEGIA.
SEKILAS
MENYOROT ACHÈH SEBAGAI
SEBUAH BANGSA DAN ACHÈH SEBAGAI NASIONALISMENYA!
Catatan:
Rencana Bapak Gubernur Irwandi Yusuf mengajurkan kurikulum bahasa Achèh di seluruh sekolah-sekolah di Achèh adalah sangat disanjung atau dialu-alukan! Apakah salahnya kita belajar bahasa Achèh?
Mengapakah tidak dikatakan ada salahnya kalau kita belajar bahasa Inggris atau Perancis?
………………..
Orang Pidië bukan sebagai orang Achèh kalau melihat pada asal namanya: Pidië (Pidir), karena itu sebuah nama bawaan dari sebuah perkampungan di India!
Tetapi mereka akan langsung marah-melatah kalau sempat dikatakan sedemikian rupa.
Kèë Achèh! Pakôn ka(h) peugah kèë kôn Achèh? Demikianlah kira-kira agaknya respon yang masih manis(?), sekalipun tercuat kesinisannya.
Tetapi sebenarnya kalau juga dikatakan orang Pidië itu bukan orang Achèh, yah itu adalah dikarenakan kesalahan mereka juga. Mengapakah mereka masih menuliskan Wilayah (Kabupaten) mereka sebagai Wilayah (Kabupaten) Pidië, tetapi belum lagi menuliskan nama wilayah mereka sebagai Wilayah (Kabupaten) Achèh Pidië?
Nah, ini akan menjadi salah satu tugas paling penting dari "Bapak Gubernur" Irwandi Yusuf agar segera menepung tawari Wilayah (Kabuten) Pidië sebagai Wilayah (Kabupaten) Achèh Pidië!
Yang sekalipun sudah jelas-jelas terbaca sejarahnya bahwa, orang Pidië itu berasal dari India, tetapi meraka akan tetap bersitegang untuk mengatakan diri mereka (orang Pidië) sebagai Achèh dan tidak lagi sebagai orang Pidië-India, seterusnya sampai ke hari kiamat, kecuali cukup dengan orang (Achèh) Pidië saja, karena mereka telah lama dan telah banyak berbauran dengan orang awal dan kemudian dengan orang berbilang etnis luar lainnya! Apalagi kalau mengenangi kembali akan tapak nostalgia asal kata Pidië itu, yang dulunya adalah hanya sebuah areal pekan kecil di Kota Sigli.
Siapa orang awal di Pidië, sebelum kedatangan khusus orang Pidië dari India itu?
Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam-pun, Sultan Kerajaan (Negara) Achèh yang memerintah dari 1617-1641 adalah orang Pidië! Tetapi kemudian beliau terkenal sebagai symbol keagungan bangsa Achèh dan nasionalisme-nya.
Suatu hal yang lain dan agak berbeda keanehannya datang dari orang-orang tempatan di Pulau Jawa (kini) yang datangnya lebih awal (dari mana datangnya ya?) dan orang-orang Jawa, yang berasal dari India (dulu) yang datang kemudiannya, tetapi telah ikut menamakan diri kedua rumpun itu, sebagai orang-orang (masyarakat) Jawa, sesuai dengan nama yang diberikan oleh mereka, dari rumpun yang berasal dari India (dulu) itu.
Jawa (Java)
artinya emas. Pulau Jawa artinya Pulau Emas, Pulau mas Jawa!
Tetapi
orang-orang (masyarakat) Jawa ini, kemudian dengan kerasnya telah
menolak, untuk menerima sebuah nama sceintific anugrah dari
para archiologist sebagai Javaman.
Karena nama
sceintific ini, berunsur ganda: Yang pertama berunsur pure scientifik dan yang
kedua berunsur politis, yang bisa mengkamoflasekan unsur
historikal: Yang mengatakan bahwa, Jawa yang sekarang ini sebagai hasil
pembauran antara orang-orang asal Jawa datang lebih awal (dari
mana datangnya yo mas?) dengan orang-orang yang datang kemudian dari India
(dulu).
Menerima nama
Javaman, yang hanya berunsur pure sceintifik: Javaman, berarti telah menerima
sebutan sebagai bermoyangkan keturunan dari orang-orang
asal temuan Eugine Dubois atau von Koningvald, yang Mojokertois atau
Solois, walaupun dalam konteks yang berunsur politis telah selalu
diagung-agungkan oleh Soekarno dan Suharto atau orang-orang
(masyarakat) sekuturunan sceintifik itu, yang seketurunan
dengan Darwin dan si kera Hanoman.
Manusia asal yang
akan memerintah Nusantara?! Deutchland uber alles!
Manusia
seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn @ Rima Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich
Umarov yang atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari Halleførs, Fitya,
Norsborg, Swedia?
Tahun 645 M. I Tsing, pengembara dari negeri China telah melihat orang-orang (masyarakat) di Pulau Jawa di tahun itu, sebagai orang-orang (masyarakat) Jawa! Dan orang-orang (masyarakat) di Pulau Sumatra sebagai orang-orang (masyarakat) Melayu.
Tahun 1995 M. Prof Dr Noercholis Madjid, pengembara dari Pulau Jawa terlihat di Seminar Melayu Antara Bangsa di Hotel Hilton, Shah Alam, Malaysia, masih sebagai orang Jawa yang masih sanggup mengatakan perasaan ke-Melayu-an dalam dirinya dan dalam diri orang-orang (masyarakat) Jawa, di pulau Jawa baru sedikit sekali tersemi, walaupun telah dipohonkan oleh Prof Dr Siddiq Fadhil, seorang Melayu, Malaysia, yang dulunya juga pengembara dari Ponorogo, Jawa, agar Prof Dr Noercholis Madjid, sebagai "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa segera berorintasi ke Melayu dan bertukar menjadi Melayu.
Nah, Abu Takengon bisa tanyakan kepada rakan saya Yusra Habib Abdul Gani atau bisa menjumpai Dr Hasballah Saat, mantan Menteri HAM dalam Kabinet Gusdur Abdurrahman Wahid, bagaimana sesungguhnya gambaran struktur sosial-kultural orang-orang (masyarakat) Jawa sekarang ini, jika menoleh kesejarah asal-muasal struktur sosial-kultural dari mereka yang hadir di seminar itu, atau jika kita menjeling ke pernyataan Prof Dr Noercholis Madjid si "duta" orang-orang (masyarakat) Jawa itu, orang yang dikirim Suharto ketika itu.
Sebentar datang pertanyaan: Dari manakah asal-muasal
orang-orang yang telah mendiami awal Pulau Jawa, sebelum kedatangan ribuan
pendatang dari India (dulu) itu? Kalau dari Gunung Kidul? Tidak! Siapa yang melempar mereka kesana? Dari Gunung Bromo? Juga tidak! Rima
Gulam Pawôn @ Rima Buya Laôt @ Alimuddin Ziyadovich Umarov juga tidak
pernah melemparkan mereka kesana. Sedangkan mereka orang-orang
(masyarakat) Jawa disana, di Pulau Jawa, sebagaimana telah dikatakan diatas,
telah menolak menerima diri mereka untuk dikatakan sebagai hasil
keturunan atau yang seketurunan dengan Darwin atau si kera Hanoman,
seketurunan dengan Rima Gulam Pawôn @ Rima Buya Laôt @ Alauddin Ziyadovich
Umarov yang atheis-komunis yang akan menggugat sejarah dari Halleførs, Fitya,
Norsborg, Swedia?
Itulah sebabnya
orang Jawa yang berunsur historikal hanya mau dituliskan nama Jawa dalam bahasa
Inggeris sebagai: Javanese atau Jawanese tetapi tidak sebagai Javaman atau
Javamen, untuk menepik agar tidak dikaitkan dengan nama sceintific itu!
Itulah juga
sebabnya mungkin Wage Rudolf Supratman (yang telah memilih Katholik sebagai
agamanya, sama Katholiknya, seperti pilihan yang dianut oleh R. A.
Kartini) anak seorang KNIL Belanda dari satuan Korps Musik, yang ketika
tinggal ditangsi KNIL Belanda di Makassar, telah menciptakan lagu
"Indonesia Raya", hasil sebuah gubahan dari sebuah lagu hula-hula
dari USA, menuliskan kata Indonesia sebagai "Indones"
saja kedalam teks lagu aslinya, mengikut karakteristik semangat guratan
Javanese atau Jawanese, walaupun kemudian telah ditukar ganti
oleh anak-anak Jawa Komunis, pelopor Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928,
sebagai Indonesia, bersesuaian nama kepartaian mereka Partai Komunis
Indonesia (PKI) yang didirikan ditahun 1924 itu, selain mereka menukarkan
juga teks lain: Indonesia Mulia menjadi Indonesia
Merdeka.
Mengikut pengamatan
J.S. Pilliang, Soempah Pemoeda 28 Oktober, 1928, teranggap sebagai sumpah
sampah, karena sumpah pemuda itu, tampa nasionalisme, tampa semangat
kebangsaan. Karena semangat kebangsaan atau nasionalisme Indonesia baru
bercambah diantara tahun 1945 - 1949, puluhan tahun kemudian.
Sebegitupun
bangsa Jawa sejak beribu tahun lalu, walaupun telah menolak disebut sebagai
Javamen, namun tidak pernahpun memperdulikan prihal kehidupan kebangsaan
Jawanya atau nasionalisme Jawanya, sekalipun telah pernah coba disemaikan
oleh sekumpulan Priyayi Jawa lewat Boedi Oetomo pada 20 Mei, 1908.
Makanya hingga
hari ini mereka, orang-orang Jawa, tidak malu dan segan-silu lagi untuk terus
mengakui kembali bahwa, meraka, sebagai orang-orang (masyarakat) Jawa,
sebagai Jawa tulen, yang sesungguhnya berasal dari India juga. Dan malahan
senang sekali kalau dikatakan bahwa mereka adalah keturunan India atau Keling
(Ingat: Kerajaan besar di Jawa: Kerajaan Keling atau Kalingga), agar
tertolak dari penglabelan sebagai Javamen itu!
Dan kononya, menurut hikayat lama....... bahwa, mereka lebih suka melagukan lagu: Nenek Moyangku Orang Pelaut, Janggutnya panjang bertalu-talu................dst-nya, berbandingkan dengan lagu Walang Kekek-nya Waljinah, sebagai suatu bentuk pengenangan kembali nostalgianya keatas Kerajaan Ka(e)lingga dan Syailendra, sama seperti masyarakat Pidië bernostalgiakan keatas Pekan Pidië. Dan itulah sebabnya pula orang Jawa terus mengawetkan heritage (warisan): Ramayana atau Bharatayhuda sebagai heritage (warisan) mereka juga. Pekan Pidië itu juga sebuah heritage!
Atau itukah pula sebabnya, maka mungkin mantan Bupati
Wilayah (Kabupaten) Pidië: Almarhum Drs Nurdin AR, bertindak sebagai Bupati
yang pertama sekali yang mengtransmigrasikan orang-orang Jawa asal India dengan
kerja sama penuh dengan The Javaman: Suharto Cs itu, ke Wilayah (Kabuten)
Pidië)? walallahu'alam...................
Hinduism is
India! India is Hindunism! Javanism is Indonesia? Indonesia is Javanism?
Orang-orang
(masyarakat) Jawa hari ini, tetap menolak Javamanism! Kecuali Soekarno
dan Suharto dua orang Lurah Super Semar, sebagai Lurah Super Semar (I) dan
Lurah Super Semar (II)
Sesungguhnya Javanism is Indonesia atau Indonesia is Javanism hanya dianut oleh Soekarno Cs dan Suharto Cs yang hanya kurang dari 1% dari orang-orang (masyarakat)masyarakat Jawa itu sendiri hari ini, misalnya seperti Jenderal Murtono mantan Menteri Transmigrasi dan Kooperasi yang akan melemparkan Pancasila jika semua orang telah menjadi Javamen! Kok suka menjadi orang asal ya?
Satu keanehan yang lain lagi: Walaupun mereka, orang Jawa tidak mau disebutkan sebagai Javaman, tetapi mereka tetap serakah dengan Java (mas)-nya: "Kang Mas" (emas 24 karat?), "Mas" (emas London, emas tulen?) dan "Di Mas" (emas 22 karat?).
Nama Java (Jawa) itu, sebenarnya sebuah nama sangsekerta yang diberikan oleh ribuan masyarakat India yang pernah pindah berhijjrah dan kemudian terus tinggal menetap disana, sebagaimana telah kita bayangkan diatas, keatas tempat penghijjrahan itu: Wilayah Little India-nya itu, sebagai Pulau Jawa, yang seterusnya mendirikan dua kerajaan besar: Kerajaan Kelingga (India) dan Kerajaan Sjailendra (India) yang sempat mendirikan candi Borubudur dipersekitaran abad ke 8 M.
Setelah membicarakan masalah orang Pidië di Achèh dan orang Jawa di Pulau Jawa, sebagai dua masyarakat yang sama berasal dari India maka kembali kita coba membicarakan terhadap masyarakat lain di Achèh:
Masyarakat di Batèe Iliëk/Peusangan, Pasèe, Peureulak, Teumiang, di Daya, di Achèh Barat, di Achèh Selatan, di Achèh Tenggara dan di Acheh Tengah (Gayo).
Sebelum kita membicarakan kesemua masyarakat-masyarakat diatas, maka kita akan membicarakan dulu tentang Achèh.
Achèh (asal Lamuri?) sebuah kerajaan terbesar dan terkuat di Nusantara, kerajaan yang pernah menciptakan sejarah hubungan diplomatik pertama didunia antara Achèh, di Sumatra dengan China, di Asia Timur, di tahun 150 BC atau ditahun terakhir China meninggalkan jajahannya selama 1050 tahun keatas Viet Nam, sebagaimana pernah ditulis oleh Prof Dr Mohammad Yamin SH, yang kemudian diterbitkan kembali oleh Pemda Propinsi Riau, di Pakanbaru. Dan juga dapat dilihat juga sebagai apa yang pernah ditulis oleh Asmaraman Khoo Phing Ho!
(Orang) China menyebutkan Achèh sebagai Huang Tse, sebagai asal nama Achèh atau Atjeh? Siapakah yang memberikan nama Achèh atau Atjèh itu? Atau siapakah yang memberikan nama Banda (artinya :orang - red dalam bahasa Urdhu?) Achèh atau Atjèh?
Bagaimanakah pendapat Bapak Drs Nurdin AR, Bupati/KDH,
asal Gujarat, India itu, dengan perkataan Acha dari Gujarat itu?
Bukanakah diantaranya pernah disebutkan sebagai asal nama Achèh? Kita akan sambung apa itu Atjèh, apa itu
Achèh dan apa itu Ace lagi?
Saya lihat
tulisan nama kota dimana Bapak Bupati berpemerintahan sudah tertulis betul,
sebagaimana yang Bapak maksudkan sebagai: Bireuen! jadi tidaklah lagi ada yang
menulis, Biron atau Bireun. Bagi tahu juga kepada Bapak Gubernur
Irwandi Yusuf jangan lagi tulis atau nulis lagi Bireuen sebagai Birun/al-birun-y,
semua orang jadi mirun.
Orang Maori, di New Zealand, katanya juga berasal dari India. Orang Red Indian di Amerika: Mulai dari Canada hingga ke Argentina juga katanya berasal dari India. Bagaimanakah dengan Apachè atau Apa Achèh di USA dan Ache di Paraguay. Malahan orang di Eskimo-pun dikatakan berasal dari India. India adalah diantara 6 besar pusat budaya dunia di zaman dahulu kala!
Nah, biarlah kita mendahulukan saja dalam mempertanyakan keatas hal orang Gayo, yang kini masih sedang didiskusikan: Apakah benar orang Gayo sebagai masyarakat asli/asal-usul di Achèh? Atau masih sukakah masyarakat Gayo menyebutkan mereka sebagai masyarakat asli/asal-usul di Achèh? Sedangkan sebaliknya orang-orang (masyarakat) Jawa, tidak mau untuk dikatakan sebagai orang asli/asal-usul, sebagai Javaman, tetapi mereka lebih rela dikatakan sebagai orang yang berasal dari India, yang moyang meraka sebagai orang pelaut, yang janggutnya panjang bertalu-talu....................................!
Sudah tentu saja jawabnya singkat: Tidak!!! Mengapakah jawabnya singkat dengan: Tidak!!! Tetapi ingat jawaban singkat dengan: tidak!! ini, tidaklah terikut-ikut seperti yang dilakukan oleh orang-orang Jawa yang menolak terhadap pendirian sikap mereka bahwa, orang-orang (masyarakat) Jawa sebagai orang asli/asal-usul disana atau sebagai Javaman.
Abu Takengon dalam hujjah beliau, telah mengatakan atau telah mengakui bahwa, orang-orang (masyarakat) Gayo berasal dari mana asalnya rumpun orang Melayu (tua?) yang kemudin datang dan menghampiri pantai-pantai Achèh, ataupun pantai lain di Nusantara, sebagai telah dimaklumkan oleh para antropogist, terutama antropologist libraryist.
Dari mana asal nama Melayu? Bagaimanakah definisi
Melayu dalam konteks diaspora Melayu, mengikut difinisi seminar Melayu Antara
Bangsa di Shah Alam, Malaysia 1995 itu? Bagaimana difinisi Melayu, mengikut konstitusi
Malaysia. Bagaimanakah pula difinisi Melayu mengikut perobahan
perobahan politik partai Melayu UMNO di Melaka dan ketika UMNO masuk Sabah atau
akan masuk Serawak. Atau mengapakah Melayu kemudian menjadi dominasi Melayu,
Malaysia?
Serta mengapakah
bahasa Melayu yang kita gunakan sekarang ini dikatakan berasal dari Jambi?
Kemudian kita coba dengan bentuk pertanyaan untuk menanyakan: Dari manakah asal-muasalnya orang Batak atau orang dikesepanjangan pantai Barat, Selatan, Timur dan Utara Pulau Sumatra? Siapakah atau antropologist yang mana yang akan sanggup memberikan jawaban terhadap masalah kedatangan asal mereka di pantai Barat, Selatan, Timur dan Utara Pulau Sumatra? Di Pualu Jawa yang bertumpukan antropologist dan archeologist-pun masih tidak selesai-selesainya menjawab dari mana asal-usul mereka, apa lagi asalnya Nyi Loro Kidul! Kecuali asalnya Nyai Belanda!
Orang Batak berasal dari Melayu dan bukan Melayu berasal dari Batak, seperti dakwaan awal mereka dalam tulisan legenda-legenda mereka, yang mengatakan Batak yang datang dari lembah subur di lembah Danau Toba telah berpencar dan bertebar sampai ke Binjai, Langkat. Sedangkan kalau kita baca legenda-legenda Melayu Deli pula, semua orang-orang Batak berasal dari Melayu Deli!
Siapakah yang menghantar orang-orang (masyarakat) Batak ke lembah subur dilembah Danau Toba? Pangeran China yang menjelmakan dirinya sebagai naga yang bersisikkan perak jatuh terkorban dalam perangnya melawan Pangeran dari Melayu Deli dan kemudian tubuhnya terdampar di Tebing Tinggi, di Hamparan Perak, di perkampungan istri Tengku Dr Ahmad Hakim Sudirman, yang berhamparan dengan keputihan perak dari sisik-semisik perak dari naga pangeran China.
Maka Istri dari Tengku Ahmad Hakim Sudirman, putri Batak Mandailing itu, sesungguhnya adalah seorang Melayu Deli! Biarlah kita sebutkan kembali karena hal ini pernah disebut-sebut dalam "diskusi sakit hati"!
Atau bagaimanakah pula, maka terhijrahnya orang-orang (masyarakat) Melayu (Tua) di lembah Danau Laut Tawar dari pantai-pantai pendaratan mereka disepanjang Selat Melaka kesana, yang ketika itu hutan sangat lebatnya dengan binatang-binatang liar yang buas serta sungai-sungai dan muaranya penuh dengan buaya ganas? Bayangkan faktor tranportasi dan komunikasi masa itu. Berapakah ramainya yang ekspedisi yang pertama sekali mencapai lembah Danau Laut Tawar? Dan berapakah ramainya yang terus menetap tetap, baik ditepian pantai, di muara-muara sungai, di sepanjang aliran sungai dan aliran air dari keluarga yang sama dari asal yang sama, yang kemudian menjadi cekal bakal: Batèe Iliëk/Peusangan, Pasèe, Peureulak, Teumiang, di Daya, di Achèh Barat, di Achèh Selatan, di Achèh Tenggara dan di Acheh Tengah atau Gayo?
Nah disini Abu Takengon tidak akan bisa mengatakan bahwa,
orang yang di Batèe Iliëk/Peusangan, Pasèe, Peureulak, Teumiang, di Daya,
di Achèh Barat, di Achèh Selatan, di Achèh Tenggara dan di Acheh
Tengah, berbeda dengan yang berekspedisi keatas, yang kemudian menamakan diri
mereka sebagai masyarakat berekspedisi itu sebagai orang-orang (masyarakat
Gayo). Lain halnya dengan si
Jono Gayo, Javaman itu!
Kemudian akan
bisa menjadi terang lagi kalau kita telah membicarakan masalah ekspedisinya
orang-orang Mongolia ke pulau-pulau di Jepang sekarang ini, kemudian menjadi
Jepang, semua menjadi Jepang, tetapi sangat berbeda perjalanan tamandunnya,
dengan Gayo di Achèh.
Makanya saya anjurkan kepada Abu Takengon pelajarlah dulu bagaimana sejarah Jepang itu menjadi Jepang! Bagaimana orang Eropah itu menjadi Amerika : Baik Canada, USA dsb-nya.
Sekarang bertanya saya bertanya lagi: Berapa lama setiap kalinya mereka berkomunikasi dan berhubungan kembali, baik lewat perdagangan barter atau perkawinan antara yang telah ke lembah Danau Laut Tawar dengan yang masih tinggal menetap?
Garam di Laut asam di Gunung, dalam kuali berjumpa kembali! Ini coba Abu Takengon beri jawaban sedikit. Dan ingat dari sedikit penjelasan diatas sesungguhnya sudah terbuka beberapa banyak jawaban yang Abu Takengon perlukan. Begitu juga Abu Takengon sudah dapat membayangkan sejak tahun berapakah Malikussaleh atau Sultan Djohansyah atau lainnya, yang telah memakai nama Islam dari Timur Tengah.
Abu Takengon, Rakan saya saudara Yusra Habib Abdul Gani itu berkemungkinan berasal dari Timur Tengah melihat kepada nama beliau, tetapi beliau sekarang sudah berbaur dan sudah sebagai masyarakat Gayo, tetapi beliau itu sebagai bangsa Achèh dan bernasionalisme Achèh!
Selain itu, perlu Abu Takegon ingat dan catat ada juga dalam sejarah ternukil bahwa, orang-orang dari tepi-tepi pantai, di muara-muara sungai atau ditempat lain yang mudah mendapat perkabaran untuk memenuhi panggilan nasional service: Jak muprang bila bansa!, tetapi telah melarikan diri ke atas, maka orang ini disebut orang Kayo!
Jangan silap, bukan orang Gayo! (nanti akan saya tunjukkan perbedaan antara orang Kayo dengan orang Gayo, sebagaimana tertulis dalam buku-buku lama, yang sekaligus saya akan paparkan bagaimana orang Gayo dengan Nasionalisme Achèhnya) seperti tipe orang-orang Kayo yang ber-"nasionalismekan kebab" orang-orang yang lari ke dekat Halleførs, Fitya, Norsborg, Swedia. Disebut juga orang Kayo dari jenis mereka-mereka yang sama type dari ALA dan ABAS yang cobva menenggek diatas orang Gayo!
Nah, silakan sisipkan argumentasi Abu Takengon, sebelum saya perjelaskan lebih lanjut termasuk terhadap pembelajaran bahasa Achèh dan sejumlah epos perjuangan bangsa Gayo dulu dan sekarang! Biaralh kita relax mendiskusikannya...................................!
Sampai sekarang tidak siapapun para archeologist atau antropologist berani atau dengan tepatnya mengatakan prihal kehadiran orang-orang (masyarakat) yang telah mermukim disepanjangan pantai Barat-Selatan-Timur dan Utara Pulau Sumatra?
Di Pulau Engganopun, yang pernah akan dikuasai oleh empayar perdagangan Achèh: Firma Toko Puspa dan Firma Achèh Kongsi dan yang dianggap masih utuh menjaga keaslian adat-budayaa awalnyapun, namun tidak juga bisa mereka mendektesikan dengan tepat dan pasti untuk mengatakan asal-usul penduduk itu, apalagi untuk menyebutkan tentang keaslian adat-budaya orang-orang (masyarakat) Gayo misalnya?
Abu Takengon, sesungguhnya masyarakat di Batèe Iliëk/Peusangan, Pasèe, Peureulak, Teumiang, di Daya, di Achèh Barat, di Achèh Selatan, di Achèh Tenggara dan di Acheh Tengah atau Gayo sendiri (termasuk setelah orang-orang /masyarakat Pidië yang telah berbaur dengan etnis luar lainnya) adalah dari keturunan yang sama dengan orang-orang (masyarakat) Gayo!
Megapakah kemudian dikatakan sudah berbeda? Apanya yang berbeda?
Yang hanya bisa membedakan masyarakat Batèe Iliëk/Peusangan, Pasèe, Peureulak, Teumiang, di Daya, di Achèh Barat, di Achèh Selatan, di Achèh Tenggara dan di Acheh Tengah atau Gayo sendiri (termasuk setelah orang-orang /masyarakat Pidië yang telah berbaur dengan etnis luar lainnya) adalah kebangsaannya, adalah nasionalismenya!
Siapapun yang telah tercabik-koyak kebangsaannya, nasionalismenya, maka itulah yang akan membedakan mereka sebagai bangsa Achèh!
Orang-orang Kayo yang saya sebutkan diatas, sudah hilangkan kebangsaannya, kenasionalismenya, maka kemudian disebutlah mereka sebagai orang Kayo! Silakan cari buku yang membedakan orang Gayo dengan nasionalisme Achèhnya dengan orang Kayo dengan keQuislingismenya!
Saya cukupkan disini dulu, selanjutnya kita sambung bagaimana bangsa Jepang yang berasal dari Mogolia yang beragama budhis sudah menjadi sebagai bangsa Jepang dengan (budhis) shintonya dan seluruh adat istiadat asalnya telah total bertukar ganti, begitu juga degan bahasanya. Begitu juga bagaimana dengan sejarah benua Amerika dengan Amirigo Vespucci-nya dan kembali ke Indonesia dengan Indosnesosnya?
(Bersambung PLUS + I ACHÈH SEBAGAI SEBUAH BANGSA DAN ACHÈH SEBAGAI NASIONALISMENYA!)
Omar Puteh,
om_puteh@yahoo.com
Skandinavia
----------