Stockholm,
17 Februari 2008
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum
wr wbr.
BAKHTIAR ABDULLAH CS MEMBAWA-BAWA
GAM-NYA WALI TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO DALAM KANCAH KOLAM RENANG BUATAN
ACEH PEACE RESOURCE CENTER (APRC) DAN FORUM BERSAMA DAMAI (FORBES) ACHEH DI
BANDA ACHEH, ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
KELIHATAN
GAM-NYA WALI TEUNGKU HASAN MUHAMMAD DI TIRO MAU DIJUAL OLEH BAKHTIAR ABDULLAH
CS DALAM ARENA KANCAH KOLAM RENANG BUATAN ACEH PEACE RESOURCE CENTER (APRC) DAN
FORUM BERSAMA DAMAI (FORBES) ACHEH DI BANDA ACHEH, ACHEH
"Forum
Komunikasi dan Koordinasi (FKK) damai Aceh serta pihak mantan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) sepakat membentuk Komisi Keberlanjutan Perdamaian Aceh (Commission
on Sustaining Peace in Aceh/CoSPA) guna melanjutkan dukungan terhadap proses
perdamaian di daerah tersebut. "Semua hal yang terkait dengan situasi
damai di Aceh akan kita bicarakan dalam forum ini" (Bakhtiar Abdullah cs,
di Sekretariat Forum Bersama Damai Aceh, Banda Acheh, Kamis [14/02],
http://beritasore.com/2008/02/15/ri-gam-sepakat-bentuk-komisi-keberlanjutan-perdamaian-aceh
)
"Kami
kira pertemuan itu tidak bermanfaat, dan hanya untuk menghabiskan dana Badan
Reintegrasi-Damai Aceh. kami tidak akan pernah menghadiri dan mengirim
perwakilannya" (Juru Bicara Komite Peralihan Aceh Ibrahim bin Syamsuddin,
Banda Aceh, Rabu, 13 februari 2008)
Suatu
kebijaksanaan yang benar dan lurus yang dijalankan oleh pihak Pimpinan GAM di
Acheh yang menyatakan bahwa pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum
Bersama Damai (Forbes) dalam membahas masalah perdamaian di Acheh sebagaimana
yang tertuang dalam MoU Helsinki yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus
2005 di Helsinki, Finlandia tidak terlebih dahulu berkonsultasi dengan pihak
Pimpinan GAM yang ada di Acheh, dalam hal ini PM Teungku Malik Mahmud cs.
Melainkan itu pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum Bersama Damai
(Forbes) justru memajukan kelompok Bakhtiar Abdullah cs yang didalamnya termasuk
Nur Djuli, Muksalmina, Teuku Hadi, Sofyan Dawood dan Shadia Marhaban yang
dianggap sebagai pihak wakil GAM-nya Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro.
Inilah suatu kesalahan besar yang dilakukan oleh pihak pencari popularitas
kelompok Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum Bersama Damai (Forbes)
Acheh. Padahal pihak GAM dibawah pimpinan Teungku Malik Mahmud cs telah
melakukan penerobosan jalur politik melalui apa yang telah disepakati dalam MoU
Helsinki yaitu langsung dengan pihak Pemerintah RI agar pihak RI tetap komitmen
dengan apa yang telah disepakati dan ditandatanganinya di Helsinki 15 Agustus
2005 dalam MoU Helsinki. Jadi bukan melalui kancah kolam renang yang dibuat
oleh pihak Forum Bersama Damai (Forbes) Acheh dan pihak Aceh Peace Resource Center
(APRC).
Nah, dengan
kegiatan politik yang dijalankan oleh pihak Forum Bersama Damai (Forbes) Acheh
dan pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) sambil menampilkan pihak Bakhtiar
Abdullah cs yang sudah tidak ada kaitannya dengan GAM-nya Wali Teungku Hasan
Muhammad di Tiro, maka tindakan dan kegiatan politik yang djalankan oleh pihak
APRC dan Forbes ini justru menghancurkan pedamaian di Acheh.
Dan
resikonya adalah sudah jelas bahwa pihak GAM tidak mengakui dan sekaligus tidak
mengirimkan utusan-utusannya ke tempat kolam renang buatan Aceh Peace Resource
Center (APRC) dan Forum Bersama Damai (Forbes) Acheh-nya itu untuk membicarakan
apa yang disebut oleh pihak APRC dan Forbes pembicaraan-pembicaraan yang
menyangkut perdamaian di Acheh.
Disini
Ahmad Sudirman melihat bahwa pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum
Bersama Damai (Forbes) Acheh secara langsung telah memecah belah bangsa dan
rakyat Acheh melalui pembelahan GAM dengan memakai kedok GAM yang isinya
Bakhtiar Abdullah cs dan diaku sebagai wakil-wakil GAM dalam hal penyelesaian
damai di Acheh.
Tindakan
ceroboh dan gegabah dari kelompok pencari keuntungan yang bernama Aceh Peace
Resource Center (APRC) dan Forum Bersama Damai (Forbes) Acheh dalam hal menjaga
kelanjutan perdamaian di Acheh dan melakukan pelurusan MoU Helsinki yang telah
dibelokkan oleh pihak RI dan DPR RI ternyata telah dikeruhi dan dirobek-robek
oleh pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum Bersama Damai (Forbes)
Acheh bersama kelompok Bakhtiar Abdullah cs di bumi Acheh.
Terakhir,
saran Ahmad Sudirman kalau pihak Aceh Peace Resource Center (APRC) dan Forum
Bersama Damai (Forbes) Acheh ingin menjaga perdamaian di Acheh dan melakukan
tindakan politik pelurusan UU nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Acheh
yang sebagian besar pasal-pasalnya telah dibelokkan oleh pihak Pemerintah RI
dan DPR RI, maka jalur politiknya harus melalui jalur politik GAM-nya Wali
Teungku Hasan Muhammad di Tiro beserta Staf-nya, bukan melalui dan
mengatasnamakan GAM-nya Bakhtiar Abdullah cs.
Bagi
yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk
membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah
Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad
Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@dataphone.se
----------
http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=2282
Kamis, 14 Februari 2008, 00:21 WIB
Pimpinan GAM Tolak Hadiri Pertemuan APRP
Reporter : Dedek
Banda Aceh, acehkita.com. Pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menolak undangan Aceh Peace Resource Center (APRP) untuk duduk bersama pewakilan RI-GAM yang membahas pelaksaan MoU Helsinki dan isu-isu yang berkenaan dengan keamanan di Sekretariat Forum Bersama Damai di Banda Aceh, Kamis (14/2).
Penolakan itu disampaikan Juru Bicara Komite Peralihan Aceh Ibrahim bin Syamsuddin kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu. Menurutnya, saat ini perwakilan GAM yang terlibat dalam penandatanganan Nota Perjanjian Damai di Helsinki 2005 silam, baru saja melakukan pertemuan dengan mantan juru runding Pemerintah Indonesia yang diketuai Hamid Awaluddin di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 9-10 Feberuari lalu.
Pertemuan Makassar yang difasilitasi Interpeace menghasilkan kesepakatan, kedua belah pihak akan meninjau kembali sejumlah butir dalam Undang Undang No 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh yang belum dilaksanakan, dan proses pelaksanaan reintegrasi yang ditangani Badan Reintegrasi-Damai Aceh.
Ibrahim Syamsuddin memastikan GAM tidak akan mengirim perwakilannya pada Pertemuan Forum Bersama yang dijadwalkan berlangsung Kamis (14/2). Penolakan itu juga disebabkan karena pihak Aceh Peace Resource Center tidak pernah berkonsultasi dengan GAM soal pelaksanaan pertemuan ini.
“Kami kira pertemuan itu tidak bermanfaat, dan hanya untuk menghabiskan dana Badan Reintegrasi-Damai Aceh. kami tidak akan pernah menghadiri dan mengirim perwakilannya,” kata pria yang akrab disapa KBS ini.
Untuk diketahui, APRC telah mengirim surat bernomor
03/B/APRC/I/2008 kepada Malik Mahmud dan tokoh-tokoh GAM yan terlibat pada
penandatanganan MoU Helsinki untuk duduk bersama guna membahas pelaksaan MoU
Helsinki dan isu-isu yang berkenaan dengan keamanan. Acara ini diadakan di
Sekretariat Forbes Damai Banda Aceh pada 14 Februari. [dzie]
----------
http://beritasore.com/2008/02/15/ri-gam-sepakat-bentuk-komisi-keberlanjutan-perdamaian-aceh/
RI - GAM Sepakat
Bentuk Komisi Keberlanjutan Perdamaian Aceh
Februari
15th, 2008 in Aceh
Banda Aceh
( Berita ) : Forum Komunikasi dan
Koordinasi (FKK) damai Aceh serta pihak mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
sepakat membentuk Komisi Keberlanjutan Perdamaian Aceh (Commission on
Sustaining Peace in Aceh/CoSPA) guna melanjutkan dukungan terhadap proses
perdamaian di daerah tersebut.
“Semua hal
yang terkait dengan situasi damai di Aceh akan kita bicarakan dalam forum ini,”
kata mantan Juru Bicara GAM, Bachtiar Abdullah di Sekretariat Forum Bersama
Damai Aceh, Banda Aceh, Kamis [14/02] .
Kesepakatan
tersebut diambil setelah adanya pertemuan yang difasilitasi Aceh Peace Resource
Center (APRC) bersama Forbes Damai Aceh untuk membicarakan berbagai persoalan
yang terkait dengan keberlanjutan perdamaian di Aceh.
Pada
pertemuan itu hadir Amiruddin Usman, Zainal Arifin, Anwar Nur, Hasbi dan
Masykur dari FKK sementara GAM di wakili oleh Nur Djuli, Bakhtiar Abdullah,
Muksalmina, Teuku Hadi, Sofyan Dawood dan Shadia Marhaban.
Dalam
pertemuan yang dipimpin Azwar Abubakar itu dibahas empat agenda yaitu nama dari
pertemuan reguler yaitu CoSPA, mekanisme pertemuan, materi pernyataan pers,
serta penentuan agenda dan jadwal pertemuan selanjutnya.
Melalui forum
CosPa, para pihak akan melakukan pertemuan setidaknya satu bulan sekali pada
pertengahan bulan. Untuk pertemuan kedua, disepakati digelar pada 14 Maret 2008
di tempat yang sama. “Dalam
pertemuan selanjutnya, CoSPA akan mengundang wakil Uni Eropa dan wakil
Pemerintah Amerika Serikat sebagai pengamat,” kata Azwar. (
ant )
----------